Mengkritisi Kisah Imam Syafi’i Ngalap berkah Ke Kuburan Abu Hanifah
Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi
TEKS KISAH
Konon, diceritakan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan: “Saya ngalap berkah dengan Abu Hanifah rahimahullah. Aku mendatangi kuburannya setiap hari. Apabila aku ada hajat, maka aku pergi ke kuburannya, sholat dua roka’at dan berdo’a di sisi kuburan Abu Hanifah rahimahullah, kemudian tak lama dari itu Alloh ‘azza wajalla mengabulkan do’aku”.
TAKHRIJ DAN DERAJAT KISAH
BATIL. Kisah ini dicantumkan oleh al-Khothib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 1/123 dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrohim dari Ali bin Maimun dari asy-Syafi’i. Riwayat ini adalah lemah, bahkan batil, karena Umar bin Ishaq tidak dikenal dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab perowi hadits.[1]
Kisah ini adalah kedustaan yang amat nyata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata bagi orang yang memiliki ilmu hadits… Orang yang menukil kisah ini hanyalah orang yang sedikit ilmu dan agamanya.”[2]
Ibnu Qoyyim rahimahullah juga berkata: “Kisah ini termasuk kedustaan yang sangat nyata.”[3]
Dalam kitab Tab’id Syaithon dijelaskan: “Adapun cerita yang dinukil dari Imam Syafi’i rahimahullah bahwa beliau biasa pergi ke kuburan Abu Hanifah rahimahullah, maka itu adalah kisah dusta yang amat nyata.”[4]
Maka janganlah engkau dengarkan apa yang dikatakan oleh al-Kautsari bahwa sanad kisah ini adalah shohih[5], karena ini adalah termasuk kesalahannya.
Bukti-Bukti Kebatilan Kisah
Beberapa bukti yang menguatkan kedustaan kisah ini adalah sebagai berikut.
1. Tatkala imam Syafi’i rahimahullah datang ke Baghdad, di sana tidak ada kuburan yang biasa didatangi untuk berdo’a.
2. Imam Syafi’i rahimahullah telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, Mesir, kuburan-kuburan para Nabi, sahabat dan tabi’in dimana mereka lebih utama daripada Abu Hanifah rahimahullah. Lantas, mengapa beliau hanya pergi ke kuburan Abu Hanifah rahimahullah saja?
3. Dalam kitabnya al-Umm 1/278, Imam Syafi’i rahimahullah telah menegaskan bahwa beliau membenci pengagungan kubur karena khawatir fitnah dan kesesatan. Maksud beliau dengan pengagungan yaitu sholat dan berdo’a di sisinya. Apakah mungkin beliau menyelisihi ucapannya sendiri?![6]
4. Hal yang menguatkan batilnya kisah ini adalah pengingkaran Imam Abu Hanifah rahimahullah terhadap meminta-minta kepada selain Alloh subhanahu wa ta’aala. Dalam kitab ad-Durr al-Mukhtar dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan Imam Abu Hanifah rahimahullah: “Saya membenci seorang meminta kecuali hanya kepada Alloh ‘azza wajalla”. “Tidak boleh bagi seorang pun meminta kepada selain Alloh ‘azza wajalla akan tetapi justru kepada-Nya saja.”
Dan tidak ragu lagi bahwa dalam masalah tawassul pendapat Imam Syafi’i rahimahullah adalah sama dengan pendapat Abu Hanifah rahimahullah.
Lantas, bagaimana mungkin beliau bertawassul kepadanya padahal ia tahu bahwa Abu Hanifah rahimahullah membenci dan mengharamkannya? Sama sekali tidak masuk akal. Bahkan hal itu akan membuat murka Imam Abu Hanifah rahimahullah. Semua itu adalah mustahil, kedua Imam ini berlepas diri dari kisah dusta tersebut. Namun, apa yang kita katakan kepada para pendusta?! Hanya kepada Alloh ‘azza wajalla kita mengadu. Ya Alloh, kami berlepas diri dari apa yang mereka perbuat.”[7]
Fotnote:
1. Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dho’ifah 1/78 oleh al-Albani.
[2] Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/685-686.
[3] Ighotsatul Lahfan 1/399.
[4] At-Tawashul Ila Haqiqoti Tawassul hlm. 339-340.
[5] Maqolat al-Kautsari hlm. 381.
[6] Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/686 oleh Ibnu Taimiyyah dan at-Tabarruk hlm. 345 oleh Dr. Nashir al-Judai’.
[7] Qoshoshun Laa Tatsbutu 2/85-86 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Salman hafidzahullahu ta’ala.
